Friday, February 19, 2016

Dear Little Friends

Ilustrasi source 

Pada tahun 2001, keluarga saya pindah meninggalkan rumah dinas yang sudah kami tempati semenjak ibu dan bapak saya menikah. Alasannya karena ibu saya kepingin punya rumah sendiri sekaligus ingin lebih dekat dengan rumah nenek saya yang berada di kota, sedangkan rumah dinas ini letaknya cukup jauh dari keramaian kota. Keluarga saya pun pindah ke sebuah komplek perumahan yang terletak di pinggiran kota Cirebon. Walaupun masih kawasan kabupaten, namun tempat tinggal yang sekarang lokasinya lebih strategis, lebih dekat ke kota, jadi mau kemana-mana juga gampang. Dan disanalah kehidupan baru dimulai, saya bersama kakak saya pindah sekolah ke sekolah negri di tengah kota, ibu saya pindah kerja ke puskesmas yang lokasinya dekat sekali dengan rumah. Dan bapak saya membuka usaha antar jemput anak sekolah setelah meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya di Apotek, kira kira itu terjadi dua tahun kemudian setelah kami pindah.

Suatu hari, sebuah keluarga dengan 2 anak perempuan, pindah ke depan rumah kami. Kalau tidak salah saat itu saya kelas 4 SD. Mereka tetangga yang baik dan tidak pelit. Anak pertama mereka bernama Syifa, yang pada saat itu baru mau masuk TK, sedangkan anak yang kedua namanya Indah, masih batitaKeluarga kami pun menjadi sangat akrab, mereka memanggil ibu saya dengan sebutan bude, bahkan kakak saya yang biasanya cuek terhadap anak kecil pun jadi ikutan suka main dengan mereka, terutama dengan de Indah yang sedang dalam masa lucu lucunya.

Saya ingat, setiap hari idul fitri, Tante Muchtar (Mamanya Syifa dan Indah) selalu jadi orang yang memberi uang paling besar, yaitu Rp. 50.000. Selain cantik, Tante Muchtar memang tidak pernah pelit kepada kami. Saya sering diajak tante jalan jalan ke mall, main main di Timezone, makan di Dunkin Donuts, pernah juga pergi berenang ke Kuningan bersama Om Muchtar naik mobil, kemudian pulangnya dibelikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Baik banget kan? How lucky me hehehehe

Syifa dan Indah sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, kami sering main bersama, mandi bersama, nonton tv bersama, dan melakukan hal hal menyenangkan lainnya. Dulu Syifa ikut antar jemput bapak saya, jadi kalau sekolah saya masuk siang, saya sering ikut Bapak saya antar Syifa ke TK-nya, lalu kami mulai berangkat sekolah bersama setiap paginya ketika Syifa masuk SD. Saya ingat dulu saya dan Syifa suka sekali main BP. Tau BP? Itu loh orang orangan yang dari kertas, dan saya baru tau kalau BP ternyata singkatan dari Barbie Paper hihihihihi. Saya juga tidak selalu jadi teman yang baik, saya pernah bikin Syifa nangis saat saya sedang bete dan malas main dengannya, tapi untungnya Syifa mudah sekali didekati, jadi besok besoknya kami main bersama lagi seperti biasa.

Bagaimana dengan de Indah? Well, bisa dibilang dia yang paling saya sayang. Lagian siapa juga yang nggak bakalan sayang sama batita yang lagi lucu lucunya macam de Indah ini. Saya menyaksikan langsung bagaimana dia tumbuh setiap harinya, dari yang awalnya suka ngejungkel saat dia mencoba untuk duduk, sampai akhirnya dia bisa berjalan dan pintar sekali berbicara. Salah satu kalimatnya yang hingga saat ini saya tidak bisa lupa ialah "ceceng dong" yang menurut dia arti sebenarnya adalah "geser dong". Hal lucu yang saya ingat tentang de Indah ialah bagaimana dia menyebut kaka saya dengan sebutan "aa mas" lantaran bingung mau memanggil dengan sebutan "aa" atau "mas". Bebeda dengan Syifa yang kurus, de Indah justru memiliki badan yang gemuk, pipinya chubby, dan rambutnya agak jarang, ahh menggemaskan sekali. Saya ingat sebuah perasaan menyenangkan timbul saat de Indah tertidur dalam gendongan saya. Pada saat itu saya merasa seperti ingin selalu melindunginya, ingin selalu berada di sisinya, dan ingin terus melihat perkembangannya hari demi hari..

Kemudian berita menyedihkan datang, mereka sekeluarga harus pindah ke luar kota. Seperti ada sesuatu yang terjadi, tapi saya tidak tau apa yang terjadi, saya pernah tanya ke ibu saya tapi ibu saya tidak mau memberi tau. Mereka menjual semuanya, termasuk salah satu mobil yang baru mereka beli. Pada hari mereka akan pindah, saya pikir paginya Syifa masih akan tetap bersekolah, tapi rupanya hari terakhir Syifa sekolah adalah kemarin. Jadilah hari itu saya berangkat ke sekolah tanpa Syifa, rasanya menyedihkan sekali sampai sampai saya sempat menangis di kelas saat kegiatan berdoa berlangsung.

Bertahun-tahun kemudian, Tante Muchtar datang bersama de Indah. Awalnya saya tidak percaya kalau yang bersama Tante itu adalah de Indah karena dia terlihat berbeda sekali, tubuhnya jangkung, masih agak gembul, dan rambutnya sudah banyak. Kalau tidak salah saat itu de Indah sudah kelas 2 SD. Lucunya sudah hilang, but i still love her anyway. Kami pun sempat mengobrol, saya tanya "dede kalo ke sekolah dianterin sama siapa?", "sama mama naik sepeda", jawabnya. Saya tanya lagi "bonceng bertiga gitu sama teteh Syifa?", dan "iya" jawabnya. Saya berharap hari itu mereka akan menginap, tapi mereka menolak karena kasihan sama Syifa di rumah sendirian.

Sudah lebih dari 10 tahun saya tidak mendengar kabar dari mereka, dan saat ini saya sedang sangat merindukannya. I wonder if they grow up as pretty as their mother, i wonder if they live well, i wonder if they still remember me...

8 comments:

  1. di masa lalu kalau kita terkesan dengan kebaikan seseorang emang susah lupanya, terus bertanya2 mereka apa kabar.


    oh ya nggit sudah posting resep yang bisa dimasak modal magicom lagi kok... selamat nyobain ya... anak kos harus sehat dan hepi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaampun mbak nin jam segini masih bangun? abis ngapain hayooo *uhuk
      dan btw iya betul bgt mbak aku setujuhh.
      aku sudah cek, makasih banyakkk sudah kabulkan requestku hehehe

      Delete
  2. Saya juga pernah merasakan yang kayak beginian, Mbak. Teman kecil saya di Batam. Kami tidak pernah bertemu lagi setelah saya pindah kota.

    Ohiya, saya baru sadar. Blognya sekarang lebih rapi, ya. Suka sama template yang sekarang.

    ReplyDelete
  3. Saya juga pernah ngalamin kayak gini, cuman ga sampe ke luar kota sih pindahnya, masih sekota. Kadang suka ga sengaja ketemu sama temen akrab masa kecil, tapi ya karena setelah masing-masing punya kesibukan dan temen baru, ya gitu deh, jadi kurang akrab. Ga seperti waktu masih deketan.

    Btw, semoga bisa di pertemukan lagi deh tuh sama Syifa dan Indah. :D

    ReplyDelete
  4. Saya juga pernah punya temen akrab yang pas kecil. Tapi, sekarang nggak tahu mereka di mana. Yang ada di ingatan cuma pernah maen sama mereka, dan berpisah karena mereka harus pindah. Yang paling sedih sih karena ingatan saya tidak baik, jadi perlahan-lahan memori itu bisa hilang. :(

    ReplyDelete
  5. Ah... gue rindu teman masa kecil gue dulu. Tapi sayangnya mereka udah pindah beberapa tahun yang lalu. Huhuhu. Tapi setiap kali gue berobat rutin ke RS, gue selalu ketemu sama bunda. Ya walaupun gak ketemu sama anaknya langsung, paling tidak ketemu sama bundanya aja udah cukup buat mengenang masa lalu hehe

    ReplyDelete
  6. "ceceng dong" Ahahahaha lucuuuu. Sayang udah kepisah jauh dan lumayan lama. Mungkin kalo sekarang ngomongnya udah "Minggir napa lu" Heheheh. \\:p/

    ReplyDelete
  7. De' Indah ngegemesiiiiiiiin. Itu Tante Muchtar baik banget ya. Kamu sama Aa' Mas (ikut-ikutan De' Indah) udah kayak anak sendiri. Hihihi.

    Semoga bisa ketemu lagi ya sama keluarga baik hati itu. Pas kamu nikah sama si pacar gitu misalnya ketemunya. Huehehe. Baca postingan ini, aku jadi pengen ketemu sama tetangga baik hatiku dulu. Aku nggak ingat, soalnya waktu mereka pindah, pas aku masih batita. Tapi ngedengar cerita Mama kalau dulu aku akrab banget sama keluarga itu, sering 'dipinjam' buat tidur di rumahnya waktu masih bayi, trus katanya mau dibawa pindah ke Batam, aku jadi pengen ketemu. Udah berpuluh-puluh tahun. :(

    ReplyDelete