Tuesday, April 19, 2011

Surat Dari Tatsuya Fujisawa Pada Novel Autumn In Paris


Surat pertama:
“Aku bertemu dengan seorang gadis kemarin.
“...berterima kasih kepada gadis yang kutemui kemarin. Dia sudah berbaik hati menemaniku ke museum, tapi aku malah membuatnya bosan setengah mati.”
“Walaupun dia tidak berkata apa-apa, tapi tanpa sadar aku menghitung berapa kali dia menguap selama di museum. Sebelas kali dalam dua jam.”
“Aku sudah mencatat dalam hati lain kali aku takkan mengajaknya ke museum lagi. Jadi sekarang aku ingin menghadiahkan sebuah lagu untuknya sebagai ucapan terima kasih karena sudah begitu sabar dan karena sudah menjadi teman mengobrol yang menyenangkan. Bisakah Anda putarkan lagu yang bagus untuknya?
“P.S. Sayang sekali aku tidak punya nomor teleponnya. Karena itu aku hanya bertanya-tanya sendiri kapan aku akan bertemu dengannya lagi. Hari ini? Besok?”

Surat kedua:
“KALAU boleh jujur, dulunya aku sama sekali tidak suka Paris. Aku juga benci musim gugur.”
“Tetapi akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi.... Paris berubah menjadi kota yang indah tepat di depan mataku dan musim gugur juga mulai terasa menyenangkan. Gadis itu yang membuat segalanya berubah. Dia sangat suka kota ini dan sangat suka musim gugur. Mengherankan sekali.... Aku tidak pernah menganggap diriku gampang dipengaruhi, tetapi kenapa gadis ini dengan mudahnya membuatku berubah pikiran?
“Gadis Musim Gugur, bukankah kau sudah janji mau menerima ajakan kencanku? Kau punya waktu hari ini?”

Surat ketiga:
“Sebelumnya aku sudah tahu dia suka Paris, musim gugur (tentu saja!), Sungai Seine, sate kambing, cat kuku warna-warni, dan mengoceh panjang-lebar. Kemarin aku baru tahu dia juga suka nonton film-film klasik. Salah satu film favoritnya sepanjang masa, menurut pengakuannya, adalah Breakfast At Tiffany‟s. Tentu bisa ditebak juga bahwa Audrey Hepburn adalah aktris favoritnya dan Moon River adalah lagu kesukaannya. Kalian punya lagu itu? Bisa putarkan untuknya? Dia pasti senang sekali.”
...

Surat keempat:
“Astaga! Dia menangis tersedu-sedu ketika kami menonton DVD My Girl di tempatku, terutama di bagian ketika tokoh yang diperankan si kecil Macaulay Culkin meninggal dunia. Walaupun dia menghabiskan seluruh persediaan tisuku, aku sama sekali tidak keberatan. Aku malah senang, karena dia mengaku itu pertama kalinya dia mengizinkan dirinya menangis di depan orang lain saat sedang menonton film.”
...

Surat kelima:
“Kepalaku pusing sekali hari ini. Badan juga terasa tidak enak. Semua itu karena aku terpaksa menuruti permintaannya. Dia membujukku—nyaris memaksa!—menemaninya ke Disneyland kemarin. Bukan hanya menemaninya ke tempat bermain untuk anak-anak balita itu, tetapi juga menemaninya mencoba seluruh permainan mengerikan di sana. Kau tahu, kan, jenis permainan yang bisa membuat jantung copot, mengobrak-abrik isi perut, dan menjungkirbalikkan otak? Dengan rendah hati kuakui aku sama sekali tidak tahan dengan permainan seperti itu. Tapi harap dicatat, aku tidak mengeluh. Setidaknya sedikit pengorbananku itu membuatnya senang.”
...

Surat keenam:
“Ternyata dia bisa memasak! Aku sudah pernah mencoba masakannya dan dia hampir sama jagonya denganku. Hari ini giliran siapa yang memasak makan malam ya? Dia atau aku? Aku lupa. Pokoknya hari ini makan malam di tempatnya saja.
“Gadis Musim Gugur, aku akan ke sana sepulang kerja.”
...

Surat ketujuh:
“Aku ingin tahu apa yang dilakukannya sekarang? Kurasa dia sedang mendengarkan radio sambil bertopang dagu dan tersenyum-senyum sendiri. Nah, sekarang ia menaikkan alisnya karena heran, lalu keningnya berkerut. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan berpikir bagaimana aku bisa menebak dengan benar. Tentu saja aku tahu. Karena aku sering memerhatikannya. Karena sering memerhatikannya, tanpa sadar aku jadi mengenal semua kebiasaannya.”
...

Surat terakhir
“Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Aku tahu.”
Kalimat pembuka dari e-mail Tatsuya itu membuat Tara menahan napas.
Aku memang baru mengenalnya, tapi rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup. Dan tiba-tiba saja aku sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku.
“Aku pertama kali bertemu dengannya di bandara Charles de Gaulle. Lalu tanpa sengaja aku bertemu dengannya lagi di sebuah kelab ketika dia agak mabuk dan salah menyebut nama si bartender. Aku akhirnya tahu namanya pada pertemuan kami yang ketiga. Salah seorang temanku memperkenalkannya kepadaku.
Selama ini aku tidak pernah percaya pada yang namanya kebetulan, tetapi ini seperti takdir. Karena akhirnya aku mendapat kesempatan mengenalnya.
“Saat itu juga aku memutuskan akan mencoba keberuntunganku. Sudah tiga kali aku bertemu dengannya tanpa sengaja—tentu saja saat itu dia tidak tahu, karena sejauh yang dia tahu, kami bertemu pertama kalinya saat temannya memperkenalkan kami—dan aku memutuskan jika setelah pertemuan ini aku bisa bertemu dengannya secara kebetulan, aku akan mengambil langkah pertama dan mengajaknya keluar.
“Bintang keberuntunganku ternyata sedang bersinar terang saat itu. Aku bertemu dengannya lagi, tanpa sengaja. Kali ini dia yang datang menghampiri dan menyapaku. Harus kuakui, aku begitu terpana sampai-sampai mendadak bisu sesaat. Aku tahu aku harus menepati janjiku sendiri. Aku pun mengajaknya menemaniku ke museum.
“Benar, gadis misterius yang kutemui di bandara dan Gadis Musim Gugur adalah orang yang sama.
“Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup mengempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya orang yang tidka boleh kudapatkan. Kata-kataku ungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi percayalah, aku rela melepaskan apa saja, melakukan apa saja, asal bisa bersamanya. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?
“Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya. Mungkin suatu hari nanti—aku tidak tahu kapan—rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru akan bertemu kembali.”
Sekarang... Saat ini saja... Untuk beberapa detik saja... aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, atau harapan, aku ingin mengaku.
“Aku mencintainya.”

11 comments:

  1. waaah, ada versi ebooknya ya...


    apa ngga takut omsetnya turun ya? :P

    ReplyDelete
  2. autumn in paris?waaaah itu novel nya bagus.yang baca pasti nangis

    ReplyDelete
  3. Yep pastinya. Puasa saya aja sampe batal ==

    ReplyDelete
  4. wah ga pernah baca noveL sisT...
    gimana dong ??? :P

    FollBack yah ^^,b
    Nubie Bloger
    THanks

    ReplyDelete
  5. terimakasih atas kunjungannya ke blog saya. sudah saya follow ya ^^

    ReplyDelete
  6. asik..makasih inggit, aku udah download e booknya, hehhe*megap-megap dapat gratisan:P

    ReplyDelete
  7. assiikk,thx ya buat linknya. :D
    mau ah donlot, penasaran ama ceritanya.

    salam kenal, visit my silly blog juga ya, hehe :D

    ReplyDelete
  8. saya sudah lama gak baca novel...senang sebenarnya...nanti coba saya download aja dulu ahhh..siapa tau tergerak untuk membaca...terima kasih untuk link-nya yaaa inggid.. :)

    salam :)

    ReplyDelete
  9. I-N-G-G-I-T ya mas, bukan INGGID ==

    ReplyDelete